Masalah
lingkungan mulai ramai dibicarakan sejak diselenggarakannya Konferensi
PBB tentang Lingkungan Hidup di Scochlom, Swedia, pada tanggal 15 Juni
1972. Di Indonesia, tonggak sejarah masalah lingkungan hidup dimulai
dengan diselenggarakannya Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Pembangunan Nasional oleh Universitas Pajajaran Bandung pada tanggal 15 –
18 Mei 1972.
Faktor terpenting dalam permasalahan lingkungan adalah
besarnya populasi manusia (laju pertumbuhan penduduk). Pertumbuhan
penduduk yang pesat menimbulkan tantangan yang dicoba diatasi dengan
pembangunan dan industrialisasi. Namun industrialisasi disamping
mempercepat persediaan segala kebutuhan hdup manusia juga memberi dampak
negatif terhadap manusia akibat terjadinya pencemaran lingkungan.
A. Isu Lingkungan Lokal
Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia menyelenggarakan Rapat
Koordinasi Lingkungan Hidup Ekoregion (Rakoreg) Kalimantan Tahun 2014,
yang berlangsung 12 – 13 Maret 2014 di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Mengambil tema “Menyongsong Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2015 – 2019 Kita Tingkatkan Pencapaiaan Kinerja Pengelolaan
Lingkungan Hidup Kalimantan”, seluruh instansi pengelola lingkungan
hidup baik pusat maupun daerah diharapkan berupaya maksimal dalam
mewujudkan 3 (tiga) Indikator Kinerja Utama yaitu (i) penurunan beban
pencemaran, (ii) pengendalilan kerusakan dan (iii) peningkatan
kapasitas. Rakoreg ini merupakan upaya untuk menjaring masukan dari para
pihak dalam penyusunan rencana kerja Kementerian Lingkungan Hidup
(KLH).
Dalam Sambutan Pembukaannya, Menteri Lingkungan Hidup, Prof.
Dr. Balthasar Kambuaya menyampaikan, ”Tantangan insitusi lingkungan
hidup yang perlu dilaksanakan dengan serius adalah segera mengejar
ketertinggalan pencapaian sasaran nasional pengelolaan lingkungan hidup
yang dinilai masih harus melalui kerja keras, memastikan seluruh
penyelenggaraan kegiatan efisien dan anggaran dibelanjakan dengan baik
dan benar, memastikan tidak terjadi policy failure dan memastikan
prinsip kepemerintahan yang baik berjalan, serta bebas dari isu
korupsi”.
Pada 2014 adalah akhir tahun RPJMN 2010-2014, selanjutnya
akan terjadi perubahan pemerintahan dan seluruh proses persiapan
penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan
Rencana Strategis (Renstra) KLH untuk tahun 2015-2019 harus segera
diselesaikan. Pertemuan Rapat Kerja bidang Lingkungan Hidup yang
terintegrasi ini menjadi penting karena merupakan Proses penyusunan
perencanaan baru jangka menengah yang disiapkan KLH dengan memperhatikan
masukan dari internal KLH maupun dari eksternal KLH yaitu Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, LSM, media, dunia usaha dan kalangan
universitas.
Pada pertemuan ini Kepala Pusat Pengelolaan Ekoregion
(PPE) Kalimantan, Ir. Tuti H. Mintarsih, MPPPM melaporkan Pencapaian
kegiatan PPE Kalimantan dan Rencana Kerja Tahun 2014 yang dilanjutkan
dengan pelaporan oleh masing-masing Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH)
Provinsi di Kalimantan mengenai Pencapaian Standar Pelayanan Minimal
(SPM) Provinsi/Kabupaten/Kota, penggunaan dana Dekonsentrasi 2013,
capaian IKU tahun 2013 dan Rencana Kerja 2014 masing-masing Provinsi di
Kalimantan.
Selain itu dibahas pula topik menarik mengenai (i)
Kerugian Ekonomi Akibat Kegiatan Tidak Ramah Lingkungan (ii)
Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan wilayah pesisir dan laut
berdasarkan analisa data spasial, dan (iii) Pengembangan Laboratorium
dalam penerapan SPM.
Menteri Lingkungan Hidup – Prof. Dr. Balthasar
Kambuaya juga berkesempatan meresmikan Taman Tiga Generasi, Bangunan
Pengawas mangrove di kawasan Mangrove Centre – Kariangau dan Bangunan
Pendidikan mangrove di SMU 6 Margomulyo Balikpapan. Rumah Pengawasan
Mangrove Center ini dibangun oleh PPE Kalimantan Kementerian Lingkungan
Hidup dengan tujuan untuk mengawasi serta memantau kawasan mangrove dari
segala macam bentuk gangguan yang akan mengancam keberadaan kawasan
mangrove. Bangunan ini juga akan menjadi Pusat Pengelolaan serta Pusat
informasi mengenai seluruh tanaman yang ada dikawasan mangrove.
Sebagai
rangkaian kegiatan Rakoreg Kalimantan, Menteri Lingkungan Hidup juga
mengikuti dialog interaktif mengenai isu-isu lingkungan terkini dengan
Persatuan Wartawan Indonesia se-Kalimantan Timur dan dilanjutkan
penanaman serta pemberian 1000 (seribu) bibit tanaman kepada masyarakat.
http://www.menlh.go.id/pembahasan-kinerja-pengelolaan-lingkungan-hidup-se-kalimantan-2014/
B. Isu Lingkungan Nasional
Tanam Untuk Kehidupan adalah
satu komunitas yang punya perhatian untuk isu-isu lingkungan. Tujuan
utama digelar acara ini adalah sebagai ajang pendidikan dan hiburan
untuk membuka opini masyarakat agar peduli lingkungan. untuk bermaksud
mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga dan merawat
lingkungan mereka sendiri. Acara ini sendiri juga jadi wadah kolaborasi
seni budaya lokal, nasional, dan internasional dalam mengekspresikan
kepedulian mereka terhadap lingkungan, mempromosikan seni budaya serta
pariwisata Salatiga, dan memperluas jaringan kerjasama antara komunitas
seni dan lingkungan dari Australia dan Indonesia.
Anak-anak juga ikut
berpartisipasi pada acara ini Anak-anak lebih mudah diajak untuk peduli
lingkungan daripada orang dewasa. Apabila sejak kecil mereka telah
terbiasa untuk mencintai lingkungan, maka kebiasaan ini akan berlanjut
sampai mereka dewasa nanti
Kegiatan tentang lingkungan seperti ini
harusnya lebih sering dilakukan karena bagus untuk menyadarkan
masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.
Contoh, Penyebab dan Dampak Lingkungan Nasional
Kebaran
Hutan : Proses kebakaran hutan dapat terjadi dengan alami atau ulah
manusia . kebakaran oleh manusia biasanya karena bermaksut pembukaan
lahan untuk perkembunan,.
Dampaknya: memeberi kontribusi CO2 di
udara, hilangnya keaneragaman hayati, asap yang dihasilkan dapat
mengganggu kesehatan dan asapnya bisa berdampak kenegra lain. Tidak
hanya pada local namun ke negra tetanggapun juga terkena.
Pencemaran
minyak lepas pantai : hasil ekploitasi minyak bumi di angkut oleh kapal
tanker ke tempat pengolahan minyak bumi. Pencemaran minyak lepas pantai
di akibatkan oleh system penampungan yang bocor atau kapal tenggelam
yang menyebankan lepasnya minyak keperairan.
Dampak : mengakibatkan
limbah tersebut dapat tersebar tergantung gelombang air laut. Dapat
berdampak kebeberapa negara, akibatnya tertutupnya lapisan permukaan
laut yang menyebabkan penetrasi matahari berkurng menyebabkan
fotosintesis terganggu, pengikatan oksigen, dan dapat menyebabkan
kematian organisme laut.
C. Isu Lingkungan Global
Sebelumnya
orang menduga masalah lingkungan global lebih banyak dipengaruhi faktor
alam, seperti iklim, yang mencakup temperatur, curah hujan, kelembaban,
tekanan udara dll. Belakangan orang mulai menyadari bahwa aktifitas
manusia pun mempengaruhi iklim dan lingkungan secara signifikan. Ambilah
contoh penebangan hutan, mempengaruhi perubahan suhu dan curah hujan
secara lokal. Ketika area hutan yang hilang semakin luas, maka akibat
yang ditimbulkan bukan lagi lokal tapi sudah berskala regional.
Kenapa
hutan ditebang? Tentu saja ada motivasi-motivasi manusia yang membuat
mereka menebang hutan, misalnya motivasi ekonomi. Untuk skala negara,
negara membutuhkan devisa untuk menjalankan roda pembangunan. Karena
industri negara belum mapan dan kuat, maka yang bisa diekspor untuk
menambah devisa adalah menjual kayu. Modal dan keahlian yang dibutuhkan
untuk menebang pohon relatif kecil dan sederhana, bukan?
Menjadi
masalah global yang mempengaruhi lingkungan juga misalnya pertumbuhan
penduduk dunia yang amat pesat. Pertumbuhan penduduk memiliki arti
pertumbuhan kawasan urban dan juga kebutuhan tambahan produksi pangan.
Belum lagi ada peningkatan kebutuhan energi. Pada
masing-masing kebutuhan ini ada implikasi pada lingkungan.
Coba kita
perhatikan contoh dari kebutuhan lahan urban dan lahan
pertanian. Pemenuhan kebutuhan ini akan meminta konversi lahan hutan.
Semakin lama daerah-daerah resapan air makin berkurang, akibatnya
terjadi krisis air tanah. Di sisi lain di beberapa kawasan berkemiringan
cukup tajam menjadi rawan longsor, karena pepohonan yang tadinya
menyangga sistem kekuatan tanah semakin berkurang. Kemudian karena
resapan air ke tanah berkurang, terjadilah over-flow pada air permukaan.
Ketika kondisi ini beresonansi dengan sistem drainase yang buruk di
perkotaan terjadilah banjir. Banjir akan membawa berbagai penderitaan.
Masalah langsungnya misalnya korban jiwa dan harta. Masalah tidak
langsungnya misalnya mewabahnya berbagai penyakit, seperti malaria,
demam berdarah, muntaber dll.
Sekarang kita beralih ke masalah
eksploitasi energi. Saat ini Indonesia misalnya masih sangat bergantung
pada sumber energi minyak bumi. Ini yang menjelaskan betapa hebohnya
pemerintah dan masyarakat akibat masalah minyak. Pemerintah bingung
menutupi anggaran belanja negara, karena besarnya pengeluaran untuk
impor minyak. Masyarakat bingung sebab kenaikan harga minyak memililiki
efek berantai pada kenaikan harga barang-barang di lapangan.
Yang
ingin saya tekankan di sini adalah bahwa penggunaan minyak dari sisi
lingkungan, dan lebih spesifiknya sisi komposisi udara di atmosfir,
berarti peningkatan gas carbon dioxida (CO2). Gas ini, bersama lima
jenis gas lain, diketahui menjadi penyebab terjadinya efek pemanasan
global (global warming). Diperkirakan diantara tahun 1990-2100 akan
terjadi kenaikan rata-rata suhu global sekitar 1,4 sampai 5,8 derajat
celsius. Akibatnya akan terjadi kenaikan rata-rata permukaan air laut,
disebabkan mencairnya gunung-gunung es di kutub. Banyak kawasan di
dunia akan terendam air laut. Akan terjadi perubahan iklim
global. Hujan dan banjir akan meningkat. Wabah beberapa penyakit akan
meningkat pula. Produksi tumbuhan pangan pun terganggu. Pendek kata akan
terjadi pengaruh besar bagi kelangsungan hidup manusia.
Para
peneliti dan ilmuwan yang bergerak di bidang lingkungan sudah sangat
ngeri membayangkan bencana besar yang akan melanda umat manusia. Yang
jadi masalah, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini belum merata di
tengah umat manusia. Ini akan lebih jelas lagi kalau melihat tingkat
kesadaran masyakat di negara berkembang. Jangankan masyarakat umum, di
kalangan pemimpin pun kesadaran masalah lingkungan ini masih belum
merata.
Di tengah kondisi di atas, dimulailah prakarsa-prakarsa
pro-lingkungan pada tingkat global. Kyoto Protokol adalah konvensi yang
masih cukup hangat dan masih akan diberlakukan secara efektif mulai
tahun 2007. Isi utama Protokol ini adalah upaya pengurangan emisi enam
gas yang mengakibatkan kenaikan suhu global. Pada tahun 2008-2012 akan
diadakan pengukuran sistematis balance pengeluaran dan penyerapan
gas-gas ini pada semua negara yang telah menandatangani Protokol ini.
Contoh, Penyebab dan Dampak Lingkungan Global
Pemanasan
Global : Pemanasan Global / Global Warming pada dasarnya merupakan
fenomena peningkatan temperature global dari tahun ke tahun karena
terjadinya efek rumah kaca. Yang disebabkan oleh meningkatnya emesi gas
karbondioksida, metana, dinitrooksida, dan CFC sehingga energy matahari
tertangkap dalam atmosfer bumi.
Dampak bagi lingkungan biogeofisik :
pelelehan es di kutub, kenaikan mutu air laut, perluasan gurun pasir,
peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna,
migrasi fauna dan hama penyakit.
Dampak bagi aktiitas social ekonomi
masyarakat: gangguan pada pesisir dan kota pantai, gangguang terhadap
prasarana fungsi jalan, pelabuhan dan bandara. Gangguan terhadap
pemukiman penduduk, ganggungan produktifitas pertanian. Peningkatan
resiko kanker dan wabah penyakit.
Penipisan Lapisan Ozon : dalam
lapisan statosfer pengaruh radiasi ultraviolet, CFC terurai dan
membebaskan atom klor. Klor akan mempercepat penguraia ozon menjadi gas
oksigen. Di samping itu efek rumah kaca, dan beberapa atom lain yang
mengandung brom seperti metal bromide dan halon juga ikut memeperbesar
penguraian ozon.
Dampak bagi makhluk hidup: lebih banyak kasus kanker
kulit melanoma yang bisa menyebabkan kematian, meningkatkan kasus
katarak pada mata dan kanker mata, menghambat daya kebal pada
manusia(imun), penurunan produksi tranaman jagung, dll, kenaikan suhu
udara dan kematian pada hewan liar.
Hujan Asam : Proses revolusi
industry mengakibatkan timbulnya zat pencemaran udara. Pencemaran udara
tersebut bisa bereaksi air hujan dan turun menjadi senyawa asam.
Dampak nya : proses korosi menjadi lebih cepat, iritasi pada kulit, system pernafasan, menyebabkan pengasaman pada tanah.
Pertumbuhan
populasi : pertambahan penduduk duia yang mengikuti pertumbuhan secara
ekponsial merupakan permasalahan lingkungan . Dampaknya: terjadinya
pertumbuhan penduduk akan menyebabkan meningkatnya kebutuhan sumber daya
alam dan ruang.
Desertifikasi : merupakan penggurunan, menurunkan
kempampuan daratan. Pda proses desertifikasi terjadi proses pengurangan
produktifitas yang secara bertahap dan penipisan lahan bagian atas
karena aktivitas manusia dan iklim yang bervariasi seperti kekeringan
dan banjir.
Dampak : awalnya berdampak local namun sekarang isu
lingkungan sudah berdampak global dan menyebabkan semakin meningkatnya
lahan kritis di muka bumi sehingga penangkap CO2 menjadi semakin
berkurang.
Penurunan keaneragaman hayati : adalah keaneragama jenis
spesies makhluk hidup. Tidak hanya mewakili jumlah atau sepsis di suatu
wilayah, maliputi keunikan spesies, gen serta ekosistem yang merupakan
sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Dampaknya: karena keaneragaman hayati ini memeliki potensi yang besar bagi manusia baik dalam kesehatan, pangan maupun ekonomi
Pencemaran
limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun): bahan yang di indentifikasi
memiliki bahan kimia satu atau lebih dari karasteristik mudah meledak,
mudah terbakar, bersifaire aktif, beracun, penyebab infeksi, bersifat
korosif.
Dampak : dulunya hanya bersifat local namaun sekarang antar
negara pun melakukan proses pertukaran dan limbanya di buang di laut
lepas. Dan jika itu semua terjadi maka limbah bahan berbahaya dan racu
dapat bersifat akut sampai kematian makhluk hidup.